Bioindikasi

http://stockpix.com/image/9909.jpg

Dalam bidang konservasi alam dan manajemen lanskap, struktur dan fungsi dari alam dan lanskap dapat dicirikan dengan bantuan dari indikator-indikator. Suatu bidang khusus yang dimaksud adalah bioindikator : organisme-organisme yang fungsi-fungsi kehidupannya dapat dikaitkan dengan faktor-faktor lingkungan tertentu secara sangat dekat sehingga kemudian ia dapat digunakan sebagai indikasi bagi mereka (Ellenberg et al. 1991 dalam Bastian & Steinhardt, 2002). Indikasi ini dapat disadari dengan kehadiran atau ketidakhadiran dari spesies tertentu atau oleh ciri-ciri spesifik seperti bentuk kehidupan dan bentuk pertumbuhan (perilaku), ritme kehidupan (phenology), kelimpahan, spektrum spesies, juga oleh keanehan-keanehan material.

Tumbuhan dan hewan menjadi indikator yang baik dalam penelitian lanskap, sebagai misal dalam mengukur kualitas udara, air dan tanah, dan dalam mendeteksi polusi dan perubahan lanskap. Bioindikasi kemudian memungkinkan untuk memperkirakan pengaruh total dari suatu keragaman dari efek-efek non spesifik yang merusak dan mengilustrasikannya untuk area-area yang lebih besar.

Perilaku ekologis dari spesies tumbuhan dalam lanskap tidak identik dengan keadaan fisiologis puncaknya. Prinsip relatifitas dalam ekologi berarti bahwa pentingnya ekologis dari faktor satu tempat untuk suatu organisme (tumbuhan, hewan, manusia) tidak tergantung hanya pada tingkatnya sendiri (kualitas) dan pengembangan, tapi dari situasi ekologis secara keseluruhan, yakni dari semua faktor yang mempengaruhi makhluk hidup ini. Dengan demikian, validitas dari nilai-nilai indikator dapat dibatasi pada komunitas atau wilayah (tumbuhan) tertentu. Bahkan di Eropa Tengah pun, perilaku ekologis dan sosiologis dari tumbuhan sering bermacam-macam antara lanskap yang mengarahkan pada pentingnya pengkhususan nilai-nilai indikator.

Selain itu, heterogenitas ekologis dari banyak spesies sebaiknya dipertimbangkan : seringnya “ekotipe” yang bermacam dapat dibedakan. Suatu kesulitan yang lebih adalah reaksi lambat dari banyak spesies pada perubahan habitat. (Dahmen dan Simon, 1997 dalam Bastian & Steinhardt, 2002).

Bagaimanapun, terdapat banyak aspek-aspek kritis dan pembatasan, khususnya yang disebabkan oleh masalah-masalah metodologis dan kurangnya pengetahuan. Rintangan yang serius yang diakibatkan dari mobilitas hewan, valensi ekologis mereka yang bermacam-macam dan sering tidak diketahui, jumlah yang tidak terbatas dari spesies, suatu eksistensi yang tersembunyi menyebabkan observasi pada banyak spesies hanya terjadi dalam periode pendek dan dengan studi berongkos mahal. (Bastian & Steinhardt, 2002).

No comments:

Post a Comment

Mohon Komentar. Terima Kasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Populer