EKOLOGI UMUM | EKOLOGI DASAR | MATA KULIAH EKOLOGI

1. Pengertian Ekologi Istilah Ekologi diperkenalkan oleh Ernest Haeckel (1869), berasal dari bahasa Yunani, yaitu : Oikos = Tempat Tinggal (rumah) Logos = Ilmu, telaah Oleh karena itu Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan sesamanya dan dengan lingkungnya. Odum (1993) menyatakan bahwa ekologi adalah suatu studi tentang struktur dan fungsi ekosistem atau alam dan manusia sebagai bagiannya. Struktur ekosistem menunjukkan suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu termasuk keadaan densitas organisme, biomassa, penyebaran materi (unsur hara), energi, serta faktor-faktor fisik dan kimia lainnya yang menciptakan keadaan sistem tersebut. Fungsi ekosistem menunjukkan hubungan sebab akibat yang terjadi secara keseluruhan antar komponen dalam sistem. Ini jelas membuktikan bahwa ekologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari seluruh pola hubungan timbal balik antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya, serta dengan semua komponen yang ada di sekitarnya. Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan. 

 




Ekologi, biologi dan ilmu kehidupan lainnya saling melengkapi dengan zoologi dan botani yang menggambarkan hal bahwa ekologi mencoba memperkirakan, dan ekonomi energi yang menggambarkan kebanyakan rantai makanan manusia dan tingkat tropik.

Ekologi mencoba memahami hubungan timbal balik, interaksi antara tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia dengan alam lingkungannya, agar dapat menjawab pertanyaan; dimana mereka hidup, bagaimana mereka hidup dan mengapa mereka hidup disana. Hubungan- hubungan tersebut demikian kompleks dan erat sehingga Odum (1971) menyatakan bahwa ekologi adalah "Environmental Biology".

Ekowilayah bumi dan riset perubahan iklim ialah dua wilayah di mana ekolog (orang yang mempelajari ekologi) kini berfokus.

2. Tingkat-Tingkat Organisme dalam Ekologi. Untuk mengerti ruang lingkup ekologi adalah dengan memahami pengertian tingkat-tingkat hirarki organisme dalam kehidupan organisme. Hirarki berarti suatu penataan menurut skala dari yang terbesar ke yang terkecil atau sebaliknya. Interaksi dan lingkungan fisik (energi dan materi) pada setiap tingkat menghasilkan sistem-sistem dengan peran dan fungsi yang khas. Suatu sistem terdiri dari komponen-komponen yang secara teratur berinteraksi dan berketergantungan yang keseluruhannya membentuk kesatuan. Ekologi terutama memperhatikan tingkat-tingkat sistem diatas tingkat organisme. Istilah-istilah yang dikenal dalam ekologi adalah : Suatu populasi (population) adalah kelompok individu organisme dari jenis yang sama yang saling berinteraksi diantara individu-individu tersebut, yang hidup dalam suatu daerah pada waktu tertentu. Misalnya populasi Orang Utan di Kalimantan. Individu berasal dari kata "in" yang artinya tidak dan "dividus" artinya dibagi-bagi. Jadi individu mempunyai potensi untuk berkembang biak, karena memiliki sifat keturunan. Individu dapat ditemui di sekitar kita seperti sebatang pohon di hutan, sekuntum bunga di kebun, seekor burung bersarang di halaman belakang bahkan seorang teman.



Suatu komunitas (community) adalah sekelompok populasi dari berbagai jenis pada suatu daerah tertentu. Komunitas ini dapat mencakup semua populasi di daerah tersebut misalnya : semua tumbuhan, binatang dari jasad renik. Komunitas dapat didefinisikan lebih sempit lagi sebagai suatu kelompok tertentu, seperti komunitas paku, atau komunitas burung pemakan biji di suatu daerah tertentu. Keaneragaman adalah gabungan antara jumlah jenis dan jumlah individu masing-masing jenis dalam suatu komunitas. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa suatu komunitas tertentu berada pada suatu lokasi tertentu? Jawabannya harus dicari pada pengaruh-pengaruh lingkungan abiotik, bagaimana interaksi komunitas-komunitas, dan bagaimana berubahnya komunitas dari waktu ke waktu. Hal yang jauh penting yang muncul dalam biologi evolusi adalah komunitas-komunitas itu adalah kelompok yang jauh lebih longgar daripada populasi, dan bahwa jawaban-jawaban mengenai masalah-masalah pada tingkat komunitas harus dicari juga dari separuh evolusi dan penyusun populasi-populasi itu. Suatu ekosistem (ekosystem) adalah keseluruhan komunitas biotik di daerah tertentu dengan lingkungan abiotiknya. Oleh karena itu ekosistem mencakup keadaan fisik dan kimia berbagai endapan, air dan gas, dan juga organisme-organisme lainnya. Ekologi ekosistem menekankan adanya gerakan energi dan hara di antara komponen-komponen biotik dan abiotik dari ekosistem itu. Komponen-komponen biota dari setiap ekosistem terangkai sebagai rantai-rantai hara (food chains). Istilah produsen, herbivora, karnivora primer, karnivora sekunder dan perombak menunjukkan tingkat-tingkat trofik (trophic levels). Perlu dikemukakan bahwa satu populasi tertentu dapat berada sekaligus pada lebih dari satu tingkat trofik.

PUSTAKA :

  1. Odum P. Eugene, 1979. Fudamentals of Ecology. Dr. Samuel J. Mc. Naughton and Larry L. Wolf. Pub. Georgia.
  2. Ryanto, dkk, 1985. Ekologi Dasar I. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Bagian Timur. Ujung Pandang.
  3. Soerianegara, I dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
  4. Kusmana & Istomo, 1995. Ekologi Hutan : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
  5. Indriyanto, 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara. Jakarta.
  6. Arief, A. 1994, Hutan Hakekat dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan. Yayasan Obor Indonesia Jakarta.
  7. Ekologi. wikipedia.org

Hubungan Antara Stratifikasi Dengan Komposisi Floristik

Salisbury (1925) menampilkan tinggi maksimum dari pohon-pohon di British berupa semak yang bentuk hampir kontinu dan tinggi 36 m dibawahnya semak-semak yang tingginya kurang dari satu meter. Hutan alam di British tidak selalu mempunyai tiga bentuk strata yang tepat yakni lapisan pohon, Semak-semak dan herba.



Kesederhanaan struktur Salisburi memberikan pembuktian dari flora dan kehadirannya hanya sedikit spesiesnya kontinu dalam suatu area; ketiadaan spesies tidak memperhatikan naik tingginya suatu spesies berkayu atau frekwensinya cukup pada struktur hutan. Salah satu faktor utama kurangnya spesies adalah temperatur. Hutan hujan tropis mempunyai jenis kayu berlimpah, beberapa stratifikasi dapat discern dan hanya dimiliki oleh single-dominant forest, diamana spesies tunggal memiliki frekwensi yang cukup sebagai bahan dari struktur hutan.

KERUSAKAN EKOSISTEM | Membawa Dampak Negatif Bagi Lingkungan

Ekosistem hutan mengalami ancaman berupa penebangan hutan (deforestasi), fragmentasi dan konversi menjadi bentuk pemanfaatan lain. Berdasarkan data Bank Dunia 2001 diperkirakan bahwa kerusakan hutan di Indonesia mencapai 1,6 juta ha per tahun atau tiga ha per menit hingga dua juta ha per tahun. Jika penggundulan hutan terjadi secara terus menerus, maka akan mengancam spesies flora dan fauna dan merusak sumber penghidupan masyarakat. Pembukaan jalan dalam kawasan yang dilindungi lebih banyak membawa dampak negatif bagi lingkungan.

hutan mangrove bakau

Indonesia mempunyai lahan basah (termasuk hutan rawa gambut) terluas di Asia, yaitu 38 juta ha yang tersebar mulai dari bagian timur Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Maluku sampai Papua. Tetapi luas lahan basah tersebut telah menyusut menjadi kurang lebih 25,8 juta ha (Suryadiputra, 1994).

Penyusutan lahan basah dikarenakan berubahnya fungsi rawa sebesar 37,2 persen dan mangrove 32,4 persen. Luas hutan mangrove berkurang dari 5,2 juta ha tahun 1982 menjadi 3,2 juta ha tahun 1987 dan menciut lagi menjadi 2,4 juta ha tahun 1993 akibat maraknya konversi mangrove menjadi kawasan budi daya (Suryadiputra, 1994, Dahuri et al, 2001).

Luas terumbu karang Indonesia diduga berkisar antara 50.020 Km2 (Moosa dkk, 1996 dalam KLH,2002) hingga 85.000 Km2 (Dahuri 2002). Hanya sekitar 6 persen terumbu karang dalam kondisi sangat baik, diperkirakan sebagian terumbu karang Indonesia akan hilang dalam 10-20 tahun dan sebagian lainnya akan hilang dalam 20-40 tahun.

Rusaknya terumbu karang mempunyai dampak pada masyarakat pesisir, misalnya berkurangnya mata pencaharian nelayan kecil.



Kepunahan Spesies

Satu spesies diperkirakan punah setiap harinya (KMNLH, 1997). Inventarisasi yang dilakukan oleh badan-badan internasional, seperti International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) dapat dijadikan indikasi tentang keterancaman spesies. Pada 1988 sebanyak 126 spesies burung, 63 spesies binatang lainnya dinyatakan berada di ambang kepunahan (BAPPENAS, 1993).

Pada 2002, Red data List IUCN menunjukan 772 jenis flora dan fauna terancam punah, yaitu terdiri dari 147 spesies mamalia,114 burung, 28 reptilia, 68 ikan, 3 moluska, dan 28 spesies lainnya serta 384 spesies tumbuhan. Salah satu spesies tumbuhan yang baru-baru ini juga dianggap telah punah adalah ramin (Gonystylus bancanus). Spesies tersebut sudah dimasukkan ke dalam Appendix III Convention of International Trade of Endengered Species of Flora and Fauna (CITES).Sekitar 240 spesies tanaman dinyatakan mulai langka, diantaranya banyak yang merupakan kerabat dekat tanaman budidaya. Paling tidak 52 spesies keluarga anggrek (Orchidaceae) dinyatakan langka.

Kepunahan jenis di Indonesia terutama disebabkan oleh degradasi habitat (deforestasi, perubahan peruntukan lahan), bencana (kebakaran), eksploitasi secara tidak bijaksana (perburuan/pemanenan liar) dan masuknya spesies asing invasif serta perdagangan satwa liar.

Perdagangan satwa liar menjadi ancaman serius bagi kelestarian satwa liar Indonesia. Lebih dari 90 persen satwa yang dijual di pasar adalah hasil tangkapan dari alam, bukan hasil penangkaran. Lebih dari 20 persen satwa yang dijual di pasar mati akibat pengangkutan yang tidak layak. Berbagai jenis satwa dilindungi dan terancam punah masih diperdagangkan secara bebas diIndonesia, seperti orangután, penyu, beberapa jenis burung, harimau Sumatera dan beruang.

Semakin langka satwa tersebut semakin mahal pula harganya. Pada tahun 2002 sekitar 1.000 ekor orangutan diburu dari hutan Kalimantan untuk diperdagangkandan juga diselundupkan ke luar negeri. Menurut Yayasan Gibbon, jumlah orangutan di Indonesia saat ini sekitar 14.000 ekor. Di beberapa daerah, telah terjadi kepunahan lokal beberapa spesies, seperti lutung Jawa di beberapa daerah di Banyuwangi.

Untuk perdagangan penyu, dunia internasional telah memberikan perhatiannya sejak lima belastahun terakhir. Tahun 1990-an, beberapa lembaga internasional seperti Greenpeace telah mempublikasikan terjadinya perdagangan dan pembantaian ribuan penyu per tahun di Bali. Isu boikot pariwisata terhadap Bali pun mencuat sebagai respon dari kepedulian masyarakat internasional terhadap nasib malang penyu-penyu yang bebas diperdagangkan di Bali.

Kemudian isu boikot pariwisata Bali semakin mereda seiring dengan berjalannya waktu dan munculnya isu yang mengatakan bahwa perdagangan penyu di Bali telah menurun. Namun investigasi ProFauna Indonesia di tahun 1999 membuktikan bahwa perdagangan penyu di Bali masih berlangsung. ProFauna Indonesia mencatat ada sekitar 9000 ekor penyu yang diperdagangkan hanya dalam kurun waktu empat bulan, yaitu Mei hingga Agustus 2001.

Kemudian untuk jenis burung yang diperdagangkan sebanyak 47 persen burung paruh bengkok yang diperdagangkan adalah termasuk jenis yang dilindungi, antara lain Cacatua sulphurea, Cacatua gofini, Eclectus roratus, Lorius lory, dan Cacatua galerita. Jenis burung yang paling banyak diperdagangkan adalah Lorius lory.

nuri kepala hitam Lorius domicella


Artikel Terkait :

DEFINISI TENTANG HUTAN :
 
PENCEMARAN LINGKUNGAN

Stratifikasi Hutan Tunggal Dominan

 

Komunitas klimaks, dimana didalamnya terdapat suatu spesies pohon tunggal bentuknya lebih proporsional dari seluruh tegakan dan beberapa diantaranya melebihi 80 % dari strata teratas, tidak diketahui hal ini terjadi di semua devisi geografis yang utama dari Rain Forest.
 
Struktur hutan single-dominant kemungkinan selalu berbeda luasan dari luas komunitas campuran, stratifikasi selalu diharapkan lebih reguler,dan lebih baik. Stratifikasi Mora di Trinidad, didominasi oleh Mora excelsa, dari suku leguminosa dimana tinggi kira-kira sampai 58 m oleh Bread (1946 a). Profil diagram dari kelompok yang dihasilkan dan untuk membandingkan satu dari campuran Carpa-Esshweilare (Mixed rain forest, Evergreen seasonal forest) dengan alternatif mora forest dataran rendah di Trinidad. Hal ini dapat dilihat dengan nyata pada diagram, strata tertinggi dari Mora forest yang memiliki kanopi kontinu yang tingginya 37 – 43 m dari atas permukaan tanah, dengan sedikit atau tidak ada celah. Dengan sendirinya tajuk-tajuk yang berbentuk kerucut menyesuaikan dan berdekatan satu sama lain. Jika dipandang dari udara kanopi mora forest mempunyai kesamaan dengan karakter seperti gelombang di laut (Bread ,1946 P173) bentuk Mora excelsa biasanya 85 – 95 % pohon dalam strata tertinggi dan 62 % semua pohon yang berdiameter 1 ft (30 cm) atau lebih, dibawah strata mora terdapat dua strata pohon yang sangat tidak kontinu pada strata 12 – 25 dan 3 – 9 M. Pada lapisan semak-semak dan penutup pancang dengan semai mora dominan dari seluruh tumbuhan lain. Mora di Trinidad memiliki tiga strata pohon, seperti Mixed rain forest dari atas, tetapi strata A lebih kontinu. Pada diagram memperlihatkan bahwa seperti Mora forest, strata A banyak sekali kesamaan dari pada Mixed Rain forest , dan selalu kontinu; spesies Eperua bentuk pohon pada lapisan ini umumnya besar. Dibawah stratum tertinggi terdapat lapisan pohon-pohon kecil yang tingginya 8 – 15 m yang menggambarkan strata C dari hutan campuran, tetapi lapisannya terdapat pada lapisan tengah bersesuaian dengan strata B yang ditemui pohon-pohon pada dua lapisan tersebut, dan hutan yang mempunyai struktur AC (dibandingkan dengan struktur A,B,C pada hutan campuran). Dibawah struktur pohon terdapat lapisan semak/belukar dan lapisan penutup yang lebih disukai oleh herba dan permudaan (semai). Semai dan pancang Eperua sangat melimpah dalam strata terendah. Pendekatan struktur AC, sama seperti pada Guina Wallaba forest yang juga menampilkan Dacryodes – Sloanea forest dari lesser antilles, juga dominan dari spesies tunggal. Meskipun Mora dan Wallaba hadir sebagai satu spesies tunggal yang sangat dominan yang luas dalam strata A dan parsial atau komplit pada perubahan pada strata B, pada hutan kayu besi di Borneo dan Sumatra (Ternyata komunitas Klimaks di dominasi oleh Kayu besi Borneo, Eusideroxylon zwagerii) stratum B, dominan ekstrim dan hadir pada stratum A. (Gresser 1919 dalam Richard, 1973) menyatakan hutan mempunyai penutup yang rata dan kompak yang terpelihara dari batang yang tingginya 15 – 20 m. Penutupan ini dibentuk pertama-tama dari tajuk Eusideroxylo. Hanya kanopi jarang ditemukan dari ocearsional tinggi Kompesia, shorea atau Intsia. Tumbuhan bawah justru terbuka, tetapi tanaman muda mendominasi dan melimpah. Hutan hujan tropika di Afrika memiliki dua hamparan yang luas dari komunitas single-dominan klimaks yakni Cynometra alexadri dan Macrobium dewevri. Lapisan penutup di negara bagian timur Belgia, Congo, Uganda. Diskripsi struktur A hutan Cynometra selengkapnya diilustrasikan pada profil diagram yang dipublikasikan oleh Eggeling (1974). Hutan Cynometra dibatasi tiga struktur lapisan dan berbeda dari hutan campuran. Struktur A membentuk spesies yang banyak sekali perbedaan dengan B, sedangkan dulunya mayoritas pohon-pohon struktur A dan B seperti Cynometra, Struktur A rata-rata menempati level teratas, dimana bentuknya kanopi kontinu mencapai 36 m. Dibawahnya adalah lapisan tengah dari pohon-pohan yang tingginya 11 – 21 m, bentuknya kontinu kecuali pohon-pohon dibawah strata A dan strata C, jarak pohon mencapai tinggi 11 m keatas, kanopi tidak tertutup. Kelompok Macrobium mempunyai struktur kurang normal, spesies dominan tingginya mencapai 35 – 40 m dan bentuk tegakan lebih 90 %. Banyak cabang dan mempunyai luas penampang tajuk yang rapat/lebat sehingga menaungi semua strata lainnya yang sangat miskin. Dalam hubungannya dengan struktur kelompok Rain forest dengan single-dominant, kemungkinan berasal dari Altingia excelsa forest di Jawa, Sumatra dan hutan Ecaliptus deglupta di New Britania, meskipun bukan tropical rain forest klimaks, hutan Altingia excelsa adalah sekelompok masyarakat lokal dari kumpulan Mixed evergreen forest, jadi menurut Van Steenis (1935) ketinggian 1.000 – 1.700 m dari permukaan laut, type submontana dibandingkan dengan Tropical Rain forest. Keistimewaan dari permukaan struktur tajuk pohon dominan umumnya bersih dengan vegetasi yang besar, kecuali jenis Podocarpus imbrica, strata tertinggi yang dibentuk dari Altingia sepanjang strata atas murni. Pohon-pohon Eucaliptus tingginya sampai 70 m, berdiri tegak dan kompak diatas lapisan kedua, terbentuk dari campuran spesies Evergreen, sama halnya dengan strata A pada Mixed forest. Terjadinya kelompok Ecaliptus deglupta hanya di new Britania dan bergantung pada keberadaan fire, oleh sebab itu terhadap fire klimaks dan bukan suatu kebenaran kelompok climatic klimaks.

Stratifikasi Hutan Hujan Campuran | STRUKTUR HUTAN


Hutan primer campuran yang terdapat di Maraballi creek dan British Guinina terdiri dari tiga strata pohon yakni ( A,B,C yang tersebar dari atas ke bawah) .Pada diagram ditunjukan sebagai srata yang paling terendah yakni strata C yang bersifat continous, dimana dua lapisan teratas kurang lebih discontinous dan bersifat tidak murni .

Kebanyakan batas tertinggi dari stratum A tertutup oleh pohon – pohon dalam stratum B. Starta A dan B bersama – sama memiliki bentuk canopy yang komplet . Tinggi rata- rata pohon pada stratum A pada diagram adalah kira – kira 35 m, tetapi ditempat lain biasanya tingginya lebih dari itu ( 42 m ), stratum B kira – kira 20 m, sedangkan stratum C adalah pohon – pohon yang tingginya diantara 20 m dan semuanya mempunyai batas rendah adalah 4,6 m dengan rata – rata ketinggian adalah 14 m.

Pada jalur profile ( Panjangnya mencapai 135 ft = 41 m ) terdapat 66 pohon yang tingginya lebih dari 15 ft, dimana tujuh pohon disini diduga terdapat pada Strata pertama dan 12 pohon pada strata ke dua dan sisanya pada Strata ke tiga . Tajuk pada Strata A menyamping, tetapi harus diingat bahwa canopinya tertutup dari pada yang tampak pada diagram karena pohon – pohon mempunyai tajuk pada jalur sample, tetapi bagian dasrnya keluar dan tidak nampak .

Pohon – pohon pada sratum A terdiri dari banyak spesis dan familiy (Lecythidaceae, Lauraceaw, Araliaceae). Tajuk – tajuk dari familiy ini biasanya lebih lebar dan dalam serta membentang membentuk payung. Stratum B bersifat lebih continous , tetapi sesekali mempunyai batasan. seperti halnya composisi pada sratum A , srata ini juga terdiri dari banyak spesis yang mempunyai jumlah familiy ( Memiliki banyak perbedaan dari stratum A).

Pada stratum C terdapat banyak gap, dimana kepadatan daun dan cabang – cabang lebih besar daripada tingkatan yang lain dalam hutan , baik tinggi maupun rendah. Lebih dari setengah total keseluruhan individu memiliki spesis pohon – pohon muda dengan strata tertinggi. Sedangkan sisanya adalah spesis – spesis yang tergolong agak lain dari stratum C dan hampir tidak memiliki bentuk yang sama dengan Strata pohon A dan B. (Kecuali Anonanceae dan Violaceae).

Kedua Strata yaitu Strata A dan B memiliki pohon – pohon muda dan untuk Strata C tajuk spesis panjang, meruncing, tajuk conical , lebih panjang daripada lebar. Dibawah ini digambarkan bahwa pohon – pohon yang mewakili diagram profil sebanyak dua pohon pada strata yang berbeda atau pada tanaman berkayu. Keduanya ditemukan tidak terlalu sehat dengan rata – rata tingginya mencapai 1 meter, dan ini bisa disebut dengan sub sratum D.

Pada srata ini ditemukan pohon – pohon muda, pohon pohon palem , tanaman herba (Maranteceae) , dan paku – pakuan yang sama baiknnya dengan tanaman berkayu . Strata terendah dipermukaan tanah yakni Strata E. Strata E terdiri dari semai dan tanaman herba (Dicotil, monocotil , paku – pakuan dan selaginella ) dari sebuah proporsi yang cukup signifikan dari keseluruhan total individu.

Seperti semak belukar , lapisan ini biasanya bersifat discontinyu , dan continyu akan terpencar – pencar , kecuali ketika terbuka dan kadang – kadang bentuk spesis social . Disini tidak terdapat banyak lapisan pada lantai hutan,kecuali untuk beberapa spesis tambahan seperti Fassidens spp.
Pada tanah – tanah yang mengalami ganguan (Karena kebanyakan pohon) seperti yang terlihat pada diagram profil , dimana stratifikasi hutan menanjak naik serupa dengan pohon - pohon hutan , tetapi umumnya diantara beberapa garis terlihat bahwa pohon – pohon terendah tidak mengalami pertumbuhan , dan tidak banyak memiliki bayangan tertinggi atau praktisnya pohon – pohon terendah dengan kanopinya akan dibatasi bersama dengan sebuah garis.

Tajuk A dari pohon – pohon hutan akan memisahkan pohon yang satu dengan yang lain lebih tinggi kepadatannya dibandingkan Strata kedua, karena pada saat akar – akar pohon kelihatan bentuknya. Pohon-pohon pada stratum B mempunyai tajuk yang sangat sempit, luasnya dibawah 10 m. Jumlah spesiesnya banyak dan mencakup banyak famili.

Strata C sangat rapat dan hampir tanpa celah. Tajuk-tajuknya merupakan suatu bentuk yang saling tertutup satu sama lain dan biasanya kokoh dan diikat dengan tumbuhan liana. Pohon-pohon yang berada pada lapisan ini umumnya adalah spesies yang tidak sampai pada ketinggian tertentu. Mempunyai variasi famili, tetapi ada kecenderung memiliki spesies lokal tunggal yang dominan (Sebenarnya spesies bervariasi dari tempat ke tempat).

Pohon-pohon yang tertinggal didalam strata ini adalah spesies pohon-pohon muda di strata B; spesies muda pada strata A kelihatannya merupakan spesies stratum C, seperti hasil laporan di Guiana dan Borneo yang kebanyakan mempunyai tajuk berbentuk kerucut kecil, tetapi individu yang tua kadang-kadang mempunyai tajuk yang lebar dan lebat.

Strata semak (D) sangat tidak pasti, terdiri dari sebagian besar pohon-pohon muda yang dimiliki oleh strata B dan C. Jadi tidak dapat dibedakan antara lapisan ini dengan lapisan pohon terendah. Spesies yang seharusnya dimiliki oleh strata B sedikit (kebanyakan yang ada adalah pohon yang berukuran kecil dibanding semak belukar). Kepadatan lapisan semak belukar sangat berubah-ubah, di dalam hutan yang tak terganggu perkembangannya sulit, dan di beberapa tempat semak belukar dan lapisan penutup/tanah kedua-duanya hampir berkurang.

Lapisan yang paling rendah dihutan adalah lapisan penutup (E) dimana terdiri dari tumbuh-tumbuhan yang bervariasi tinggi dari beberapa centimeter sampai dengan lebih dari 1 meter. Komponen yang biasanya mendominasi antara lain semai, rumput-rumputan dikotil dan monokotil dan paku-pakuan. Lapisan ini dalam perkembangannya lebih tidak samarata dibandingkan dengan lapisan hutan yang terbuka, tetapi pada tempat-tempat yang terbuka, akan ditutupi oleh pertumbuhan rumput dan permudaan lebih rapat, tidak ada lumut ditanah.

Besarnya diskontinu dari dua pohon pada strata tertinggi merupakan suatu faktor istimewa dalam hutan ini. Strata A sangat terbuka kemungkinan merupakan suatu konsukuensi relatif dari kerasnya iklim musin panas dan mungkin suatu ciri khas dari “Evergreen forest” di Afrika timur.

Tiga contoh hutan hujan campuran yang dapat memberikan corak dan bentuk utama stratifikasi, meskipun terdapat beberapa perbedaan yang signifikan. Dari data yang ada dan bentuk informasi yang lain, tersedia pernyataan yang umumnya dipakai mengenai struktur dari hutan hujan campuran yang adalah sebagai berikut :

  • Adanya lima strata yang independen dari tumbuh-tumbuhan; terdapat tiga lapisan pohon dimana ketiga lapisan tersebut diistilahkan sebagai strata A, B dan C yang terdiri atas seluruh pohon-pohon, stratum D terdiri atas tumbuhan berkayu tetapi sebagian rumput-rumputan, herba sering berada pada strata semak-semak, hanya sedikit yang komponen-komponennya adalah semak dalam sautu ekosistim dan lapisan terendah (E) terdiri dari rumput dan permudaan (Semai).
  • Tinggi setiap strata bervariasi dari tempat ke tempat, tetapi tidak berada pada luasan terbatas. Tinggi setiap strata beragam Strata A adalah 30 m atau lebih pada hutan Guina, di Borneo diatas 35 m dan di Nigeria 42 m, tinggi strata B adalah 20, 18, dan 27 m, dan strata C adalah 14, 8, dan 10 meter.
  • Strata A biasanya memiliki kanopi yang kurang lebih diskontinu, meskipun dianggap bervariasi diantara ke tiga profil; sebagai bukti nyata bahwa Hutan hujan (Rain forest) sangat tinggi dan lebih kaya. (Malay Peninsula memiliki tinggi rata-rata pohon yang sangat tinggi mencapai 200 ft (61 m). Lapisan ini dalam prakteknya bersifat kontinu. Ada beberapa bukti bahwa strata A dalam perkembangannya menjadi tidak kontinu seperti mendekati batas iklim dari Rain Forest. Strata B kontinu atau sedikit banyak diskontinu;, strata C selalu kurang lebih kontinu dan seringkali merupakan lapisan hutan yang lebih rapat.
  • Strata A secara vertikal diskontinu, antara kanopi yang berdekatan kemungkinan jarang. Demikian pula pada hutan di Guina ada beberapa yang diskontinu antara strata B dan C, tetapi sedikit antara A dan B; Hutan Borneo terdapat celah antara strata A dan B, tetapi tidak ada antara B dan C, di Negeria seperti halnya di Guina diskontinu antara B dan C. Batas vertikal dari lapisan semak dan penutup tidak pernah habis.
  • Setiap strata hutan mempunyai perbedaan dan karakteristik komposisi floristik, tetapi semua strata kecuali strata A dan B memiliki jenis tanaman muda dan setiap strata tertinggi bentuknya mantap dan lebih proporsional dari jumlah total individu.
  • Pohon-pohon pada setiap strata mempunyai karakteristik bentuk tajuk. Strata A bentuk tajuknya lebar atau sama seperti payung, strata B mempunyai tajuk dalam lebar atau pelebaran, Strata C berbentuk kerucut dan meruncing, banyak yang lebih tinggi daripada lebar.

Konservasi Keanekaragaman Hayati

Banyak spesies telah berkembang dan punah sejak kehidupan bermula. Hal ini dapat ketahui melalui catatan fosil. Tetapi, sekarang ini spesies menjadi punah dengan laju yang lebih tinggi daripada waktu sebelumnya dalam sejarah geologi, hampir keseluruhannya disebabkan oleh kegiatan manusia. Di masa geologi yang lalu spesies yang punah akan digantikan oleh spesies baru yang berkembang mengisi celah atau ruang yang ditinggalkan. Pada saat sekarang, hal ini tidak akan mungkin terjadi karena banyak habitat telah hilang. Kerusakan hutan telah meningkatkan emisi karbon hampir 20 %. Ini sangat signifikan karena karbon dioksida merupakan salah satu gas rumah kaca yang berimplikasi pada kecenderungan pemanasan global. Salju dan penutupan es telah menurun, suhu lautan dalam telah meningkat dan level permukaan lautan meningkat 100-200 mm selama abad yang terakhir. Bila laju yang sekarang berlanjut, para pakar memprediksi bumi secara rata-rata 1°C akan lebih panas menjelang tahun 2050.. 
 
 
 

 
Peningkatan permukaan air laut dapat menenggelamkan banyak wilayah. Kondisi cuaca yang ekstrim yang menyebabkan kekeringan, banjir dan taufan, serta distribusi organisme penyebab penyakit diprediksinya dapat terjadi. Hutan dapat mempengaruhi pola curah hujan melalui transpirasi dan melindungi daerah aliran sungai. Deforestasi menyebabkan penurunan curah hujan dan perubahan pola distribusinya. Ini juga menyebabkan erosi dan banjir. Apa yang disampaikan di atas hanya beberapa dampak ekologis dari deforestasi, yang dampaknya berpengaruh langsung pada manusia. Bencana alam seperti banjir, dan kebakaran hutan yang secara langsung maupun tidak langsung disebabkan kegiatan manusia, semuanya memberikan konsekuensi ekonomi serius pada wilayah yang terkena. Biaya untuk mengatasinya bisa menelas ratusan juta rupiah, termasuk kesengsaraan manusian yang terkena. Erosi dan terbentuknya gurun karena deforestasi menurunkan kemampuan masyarakat setempat untuk menanam tanaman dan memberi makan mereka sendiri. Eksploitasi sumbedaya hutan yang tidak bijaksana pada akhirnya juga berakhir dengan kehancuran industri hasil hutan. Bila metode lestari yang dipergunakan, areal yang dipanenan ditanami kembali, maka ini bukan merupakan substitusi untuk hutan yang telah dipanen. Hutan alam mungkin memerlukan ratusan tahun untuk berkembang menjadi sistem yang rumit yang mengandung banyak spesies yang saling tergantung satu sama lain. Pada tegakan dengan pohon-pohon yang ditanam murni, lapisan permukaan tanah dan tumbuhan bawahnya diupayakan relatif bersih. Pohon-pohon muda akan mendukung sebagian kecil spesies asli yang telah ada sebelumnya. Pohon-pohon hutan hujan tropis perlu waktu bertahun-tahun untuk dapat dipanen dan tidak dapat digantikan dengan cepat; demikian juga komunitasnya yang kompleks juga juga tidak mudah digantikan bila rusak. Kehilangan keanekaragaman hayati secara umum juga berarti bahwa spesies yang memiliki potensi ekonomi dan sosial mungkin hilang sebelum mereka ditemukan. Sumberdaya obat-obatan dan bahan kimia yang bermanfaat yang dikandung oleh spesies liar mungkin hilang untuk selamanya. Kekayaan spesies yang terdapat pada hutan hujan tropis mungkin mengandung bahan kimia dan obat-obatan yang berguna. Banyak spesies lautan mempertahankan dirinya secara kimiawi dan ini merupakan sumber bahan obat-obatan yang penting.
Banyak metode dan alat yang tersedia dalam pengelolaan keanekaragaman hayati yang secara umum dapat dikelompokkan sebagai berikut:
  • Konservasi Insitu, meliputi metode dan alat untuk melindungi spesies, variasi genetik dan habitat dalam ekosistem aslinya. Pendekatan insitu meliputi penetapan dan pengelolaan kawasan lindung seperti: cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman wisata alam, hutan lindung, sempadan sungai, kawasan plasma nutfah dan kawasan bergambut. Dalam prakteknya, pendekatan insitu juga termasuk pengelolaan satwa liar dan strategi perlindungan sumberdaya di luar kawasan lindung. Di bidang kehutanan dan pertanian, pendekatan insitu juga digunakan untuk melindungi keanekaragaman genetik tanaman di habitat aslinya serta penetapan spesies dilindungi tanpa menspesifikasikan habitatnya.
  • Konservasi Eksitu, meliputi metode dan alat untuk melindungi spesies tanaman, satwa liar dan organisme mikro serta varietas genetik di luar habitat/ekosistem aslinya. Kegiatan yang umum dilakukan antara lain penangkaran, penyimpanan atau pengklonan karena alasan: (1) habitat mengalami kerusakan akibat konversi; (2) materi tersebut dapat digunakan untuk penelitian, percobaan, pengembangan produk baru atau pendidikan lingkungan. Dalam metode tersebut termasuk: pembangunan kebun raya, koleksi mikologi, museum, bank biji, koleksi kultur jaringan dan kebun binatang. Mengingat bahwa organisme dikelola dalam lingkungan buatan, metode eksitu mengisolasi spesies dari proses-proses evolusi.
  • Restorasi dan Rehabilitasi, meliputi metode, baik insitu maupun eksitu, untuk membangun kembali spesies, varietas genetik, komunitas, populasi, habitat dan proses-proses ekologis. Restorasi ekologis biasanya melibatkan upaya rekonstruksi ekosistem alami atau semi alami di daerah-daerah yang mengalami degradasi, termasuk reintroduksi spesies asli, sedangkan rehabilitasi melibatkan upaya untuk memperbaiki proses-proses ekosistem, misalnya Daerah Aliran Sungai, tetapi tidak diikuti dengan pemulihan ekosistem dan keberadaan spesies asli.
  • Pengelolaan Lansekap Terpadu, meliputi alat dan strategi di bidang kehutanan, perikanan, pertanian, pengelolaan satwa liar dan pariwisata untuk menyatukan unsur perlindungan, pemanfaatan lestari serta kriteria pemerataan dalam tujuan dan praktek pengelolaan. Mengingat bahwa tataguna lahan tersebut mendominasi keseluruhan bentuk lansekap, baik pedalaman maupun wilayah pesisir, reinvestasi untuk pengelolaan keanekaragaman hayati memiliki peluang besar untuk dapat diperoleh.
  • Formulasi Kebijakan dan Kelembagaan, meliputi metode yang membatasi penggunaan sumberdaya lahan melalui zonasi, pemberian insentif dan pajak untuk menekan praktek penggunaan lahan yang secara potensial dapat merusak; mengaturan kepemilikan lahan yang mendukung pengurusannya secara lestari; serta menetapkan kebijakan pengaturan kepentingan swasta dan masyarakat yang menguntungkan bagi konservasi keanekaragaman hayati.
Artikel Terkait :

JURNAL PENELITIAN

JURNAL PENELITIAN

Paling Populer